Kambing hitam

Nama gue Ronny, gue adalah penulis amatiran yang menuliskan hal yang nggak penting. Sebenarnya gue membuat tulisan ini terinspirasi dari Raditya Dika dimana semua bukunya udah gue baca sampe semua aib keluarganya gue udah tau, semua diceritain dibukunya. Buku pertama yang gue baca adalah kambing jantan. Buku itu gue baca saat masih kuliah dan gue juga cuman baca sekilas saat itu. Buku itu pertama kali gue tau dari teman gue namanya Adi. Adi adalah teman gue waktu kuliah dia gemuk, suka pake baju ketat udah kayak patrick di pakein kondom dan dia juga merupakan raja jahil.
Saat itu  dia lagi baca bukunya Raditya Dika “Kambing jantan”
“Apa ko baca adi” tanya gue yang saat itu gue masih menggunakan aksen Kendari
“Kambing jantan” jawabnya
“bukunya siapa itu”
“Punya ku toh” jawabnya sinis
“maksudnya penulisnya adi, ” gue nyolot
“oh makanya kalo bicara yang jelas” jawabnya santai “bukunya Raditya Dika, lucu sekali ko mau baca ?” dia menawarkan
“iyo, coba sini” pas tangan gue mau ngambil eh ditarik kembali
“tunggu sa selesaikan dulu” jawabnya santai
Gue diem
Setelah itu gue dikasi dan gue mulai membaca, halaman pertama biasa aja, halaman kedua biasa, halaman ketiga senyum sampai telinga, halaman keempat tertawa, halaman kelima tertawa anarkis sambil bakar rumah tetangga. Saat itu gue penasaran dengan kelanjutan buku itu, tapi berhubung gue adalah orang yang sok nggak mau minjem, gue liat harganya di cover belakang “Rp.66.000” gue liat harganya ih gila mahal juga tapi berhubung gue udah penasaran akhirnya gue coba cari ke Gramedia.
 Setibanya di Gramedia gue langsung nyari tuh buku, tapi anenhya setelah gue keliling gue nggak liat bukunya dimana dan gobloknya lagi gue lupa nama penulis ama judul bukunya. Saat itu gue tanya ke pelayannya
“ada buku Kambing Hitam kah mas ?” gue bertanya dengan mantap
“Kambing Hitam ?” dia kebingungan mungkin dikirain gue lagi cari pencuri atau gue dikira lagi nyari buku untuk jadi pencuri celana dalam profesional.
“iya kambing hitam, judulnya “
“coba cari di buku peternakan bagian sana mas”
Gue bingung perasaan yang gue baca kemarin buku komedi kok jadi buku peternakan, apa jangan-jangan buku itu emang tergolong buku ternak yang dibuat lucu. Gue segera menuju ke buku ternak dan gue nggak nemu. Dan saat itu ada  dua orang cewek yang mengangkat sebuah buku
“kambing jantan,buku apakah ini ?”
“buku ternak mungkin” jawab temannya
Gue langsung kesana dan melihat buku itu dan memang itu buku yang gue cari. Akhirnya gue kembali dengan rasa kemaluan yang besar maksudnya malu besar, kemudian si pelayan tadi bertanya lagi
“udah ketemu buku kambing hitamnya dek ?” tanyanya
“sudah,  ternyata judulnya kambing jantan”
“oh kambing jantan” sambil tertawa tipis dan dalam pikirannya pasti menghujat gue, goblok lo.
Setelah itu gue bayar kekasir dan dengan rasa girang gue pulang kerumah secepat mungkin biar bisa cepat ngelanjutin cerita si Kambing hitam maksudnya kambing jantan
Setibanya dirumah gue langsung masuk dikamar, pintu gue kunci trus digembok, jendela ditutup nyalain lilin (gue mau baca buku atau ngepet) dan Buku kambing hitam itu berhasil membuat gue ngakak nggak karuan. Di saat itulah gue mulai tertarik dengan buku Raditya dika, karena ketertarikan gue dengan sosok dibalik penulis ini akhir gue coba search di Internet, pikiran gue pasti yang namanya Raditya Dika orangnya ganteng kayak Baim wong dan ternyata apa yang gue bayangin ternyata diluar ekspektasi gue. yang gue liat malah seorang om-om berumur 30-an, mau dibilang ganteng, nggak juga, mau dibilang nggak ganteng, banget.
Tapi karena gue udah ngefans, gue sikirin dulu pemikiran tentang muka bang Raditya Dika yang kalo ngebayangin pasti ke ingat ama tapir. Gue baca biografinya cukup mencengangkan bang Radit ternyata pernah Kuliah di Adelaide University Australia salah satu kampus ngetop di dunia dan salah satu alumni terbaiknya yaitu William lawrance bragg pada tahun 1965 diusia 25 tahun meraih nobel dibidang fisika bersama ayahnya, Sir William Henry Bragg. Dan hebatnya lagi di masuk di Adelaide university saat usianya 15 tahun dan pada saat usianya 18 tahun dia udah meraih gelar doctor.
Si Lawrance sangat hebat di usia 15 tahun udah kuliah, 15 tahun gue masih kelas 1 SMA, suka bolos, kerjaannya remedial terus, nongkrong dikantin makan mie instan yang kebanyak micin akhirnya bego. Gue ingat adek gue pernah tanya tentang soal mencari kecepatan, waktu dan jarak :
“bagaimana cara kerjakan ini ?” adek gue tanya dengan hidung meler dan bau rumput kering
“apa itu ?” tanya gue balik
“soal fisika”jawabnya
“coba ku liat” gue meminta
“Budi pergi ke semarang menggunakan mobil dengan jarak tempuh 150 Km, dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam, dia beristirahat direst area selama 30 menit setelah jarak tempuhnya sudah setengah dari jarak tempuh keseluruhan. berapa lama waktu yang ditempuh  “
Gue sok ngerti padahal otak gue mulai konslet, didalam otak gue cuman terdengar lagu Indonesia Raya
“tergantung, siapa tau si budi dia singgah-singgah dulu, beli oleh-oleh , singgah cuci mobil, singgah mencuci di kali, singgah boker, ato jangan sampe pas bangun karena masih malas mau jalan akhirnya dia tidur lagi bisa-bisa besok baru sampe” jawab gue sok bijak
“jadi bagaimana mi ?” tanya dia balik
“tanya gurumu ini budi dia tidak singgah ji beli kue atau singgah mencuci di kali, kalo na bilang singgah bilang saja besok baru sampe karena capek mi mencuci” jawab gue bijak
“oh iyo” jawab dia pasrah.
Terus gue berpikir lagi bagaimana bisa lulusan Adelaide University yang ngambil jurusan ekonomi nulis kambing jantan. Gue jadi mikir jangan-jangan william lawrance bragg pernah nulis “ playboy  “buaya darat”” terus dapat nobel. Setelah gue selidiki ternyata seluruh buku Raditya Dika merupakan rangkuman dari diary dan pengalaman dia yang ditulis di blog pribadinya. Gua nggak pernah nulis diary hal yang paling mendekati diary adalah tukaran binder, gue cari mana kertas yang ada gambar barbie dan dora the explorer.
Dari tulisan Raditya dika inilah gue semacam mendapat wahyu bahwa nggak selamanya menulis itu menggunakan bahasa formal, kita bisa menggunakan bahasa sehari-hari yang lebih mudah dipahami dikalangan bego-bego kayak gue. Gue mulai menulis saat itu tapi sayangnya, saat gue menulis di usia 19 tahun gue baru sadar ternyata gue adalah tipikal orang yang labil atau panas-panasan nggak bisa ngelakuin sesuatu secara konsisten. Gue udah ngetik sepuluh halaman kemudian gue baca lagi, ternyata tulisan gue nggak bagus dan begitulah nasib tulisan gue yang lalu berakhir dengan tombol backspace. Goblok . gue selalu mencoba hal baru, sebagai upaya mencari jatidiri gue, selain buku Raditya Dika, gue juga baca buku politik dan gue pengen jadi politisi, gue baca novel Agatha Christie gue pengen jadi Novelis, gue baca buku Psikiater gue pengen jadi gila dan begitu terus kelabilan gue berjalan. Gue pernah baca dari sebuah blog di internet bahwa ketika kamu ingin menulis lakukan segera dan berhentilah ketika kamu sudah rasa cukup.
Dari situlah gue berpikir untuk mulai menulis sedikit demi sedikit, saat gue lagi mood gue nulis saat gue nggak mood, jilatin aspal.  gue tahu tulisan gue  nggak akan ada manfaatnya untuk pengembangan otak manusia, yang ada malah menjadi pembodohan massal, gue di tuntut PBB karena melakukan tindakan yang setara dengan yang dilakukan Hitler holocaust ( pembantaian orang yahudi di jerman semasa Hitler memimpin ) gue dipenjara di Guantanamo ( penjara bagi para teroris dan orang paling berbahaya di dunia).
Satu hal yang gue rasakan ketika menulis adalah semua kebodohan dan kekonyolan yang ada dalam diri gue bisa terlampiaskan dan gue bisa tau kekurangan diri gue sendiri dan tentunya bisa ngegosip orang lain dengan nama samaran.











KKN (Kuliah kerja Ngeri)
Tahun 2015 gue mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Kampus gue. Banyak cerita horor dibalik KKN
senior gue tanyain satu per satu
“kak bagaimana waktu kita KKN ?”
“TIDAK ADA AIR TAWAR” jawabnya singkat
Gue udah berpikir, gawat juga kalo nggak ada air tawar di tempat KKN gue, masa gue mau mandi air laut, yang ada gue setelah pulang dari tempat KKN  gue jadi manusia ikan, paru-paru gue berubah jadi insang, tangan gue jadi sirip dan mulut gue mangap-mangap kayak ikan kalo gue nggak kena air gue mencak-mencak di lantai kayak ikan beneran. Setelah itu gue nyari senior yang lain yang bisa memberikan gue sedikit ketenangan. Sebut saja namanya Jason
“kak waktu KKN bagaimana suasanannya ?” tanya gue
“enak toh, kita disambut sama kepala desa, trus di banyak cewek cantik” jawabnya sambil tersenyum
“tapi” sambungnya “kalo ko kedapatan berduaan dengan gadis desa saat malam ko bisa di nikahkan”
Gue mikir lagi di tempat pertama gue kayak bisa jadi manusia ikan ditempat kedua ini gue bisa jadi pulang berlusin-lusin. Gue pulang KKN bawa anak dan istri gue yang lagi mengandung anak ke duabelas. Akhirnya gue memutuskan untuk tidak bertanya lagi karena pengalaman mereka berbeda-beda. Siapa tau aja gue dapet tempat yang indah, banyak pohon kelapa, banyak cewek, penduduk yang ramah, dan makanan yang melimpah.
Sekitar jam dua belas malam ada informasi bahwa lokasi KKN udah diumumkan. Gue langsung menuju ke Rektorat dan pada saat itu hujan cukup deras tapi demi melihat pengumuman penentuan lokasi gue tetap nembus ujan, gue liat direktorat kerumunan mahasiswa ngumpul udah kayak lagi antri sembako, kalo kayak gini nggak bakalan kelar, belum lagi gerombolan cewek-cewek yang histeris melihat pengumuman jika mereka ternyata satu lokasi, mereka ngumpul buat lingkaran ngegosip
“dimana lokasimu ?”
“sy di desa B”
“ih ada temanku disitu, nanti sy kasi kenal dengan kamu”
Gue bingung mau cari lokasi ato mau comblangin orang nih, kayaknya ini bukan kerja kuliah nyata tapi kerja kuliah nyomblang. Gue masih menunggu sampai lokasi benar-benar kondusif dan sepi tapi sepertinya hal itu tidak mungkin karena semakin banyak yang datang. Gue mulai berpikir anarkis ngambil bensin terus gue sulut api biar pada bubar. Setelah setengah jam gue berdiri kayak tiang listrik, akhir keadaan mulai sepi. Gue nyari nama gue akhirnya gue dapat “desa Santigi, Kabupaten Muna Barat” gue foto aja langsung daripada buang waktu gue cuman nulis nomor Hp gue aja biar kalo ngumpul tinggal telpon gue aja.
Sebelum berangkat ke lokasi KKN kita semua musti ikut pembekalan dan itu dimulai dari pagi ampe sore, seingat gue saat itu pembekalannya berlangsung tiga hari. Setelah itu semua tim desa Santigi ngumpul dan mempersiapkan segala sesuatunya.
Hari pemberangkatan pun tiba. Tim kabupaten Muna barat merupakan kloter terakhir, karena masih sekitar beberapa jam akhirnya gue ke Kost teman gue, sambil cerita pengalaman KKN nya dulu. Pukul 6 malam gue dianterin ama dia ke kampus. Setibanya di kampus kita langsung diberangkatkan dengan menggunakan truk tentara, gue pikir kita mau pergi KKN atau mau dikirim ke Suriah buat berperang nih.
Setibanya di pelabuhan kita langsung masuk kedalam kapal, kapalnya sih lumayan nyaman, yang bikin bikin nggak nyaman adalah bau kaki dari kaki-kaki yang berkeringat dan teraniyaya, akhirnya gue lebih memilih diluar. Perjalanan memakan waktu sekitar 5 – 6 jam. tim gue terdiri dari 3 cewek dan 6 cowok. Ada satu orang yang cewek namanya Tini, Tini merupakan senior gue tapi dia dari fakultas Kehutanan, gue liat posturnya buset kebiasaan narik kayu di hutan kayaknya nih cewek soalnya otot lengannya gede dan gue juga mulai berfikir bahwa Tini bisa jadi bodyguard kita ketika kapal ini tenggelam;
“Tini kapal ini akan tenggelam” teriak gue
Tini datang dengan logo T di dada
“tenang kita tidak akan tenggelam” jawabnya
Kemudian dia mengangkat kapal yang sudah hampir tenggelam, dan gobloknya lagi dia sendiri yang tenggelam dia lupa klo nggak bisa berenang, kita semua selamat dan tini berada didasar laut selama-lamanya .tapi dibalik tampang sangarnya yang sangat menakutkan dia adalah orang yang bisa diajak bercanda dan dia orangnnya gampang ketawa itulah kenapa gue sangat cocok dengan dia waktu kita KKN.
Pukul 6.30 kita tiba di kabupaten Muna, gue lihat pemandangannya bagus banget nggak kayak di Kendari cuman ada teluk yang mentok kita liat ada celana dalam yang ngambang di pinggiran teluk dan air yang cokelat. Di Muna berbeda, airnya jernih, sampah nggak ada gue pikir kayaknya bagus nih tempat. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan ke kabupaten Muna barat menggunakan kendaraan roda empat.
Selama perjalanan gue merasa agak nggak nyaman soalnya jalannya nggak bagus, yah wajarlah daerah pemekaran baru. Ketika gue sampe di Lapangan ternyata kita udah disambut oleh rektor Prof. Usman Rianse gue bangga dong kita langsung di dampingi rektor rasanya gue pengen guling-guling tapi takut kena tokai kebo. Setelan dijemur dilapangan dan mendengarkan banyak kata sambutan akhirnya kita diberangkatkan ke lokasi masing-masing di Kabupaten Muna Barat.
Di dalam mobil gue keinget sama babinsa yang gue tanya di lapangan tadi.
“pak, dimana itu desa Santigi” tanya gue penasaran
“Santigi itu di tengah laut dek, nggak ada air tawar dan kalau mau ambil air tawar harus ke pulau sebelah” jawab dia tegas, dalam pikiran bapak itu pasti bilang “ mampus lo minum tuh air laut”
Gue pernah diceritain senior kalo biasanya babinsa itu ngomong buat nakutin aja biar kita depresi, gue juga mikir masa kita mau di buang di pulau dan dibiarkan mati kehausan di pulau tengah laut. Setelah itu kita singgah lagi di kantor kecamatan Tiworo Utara, disinilah semua apa yang dikatakan babinsa tadi mulai menjadi kenyataan. Gue pergi mencuci muka dan air yang keluar dari keran adalah air rada asin, kalo air itu gue minum ginjal gue bisa lepas.
Setelah bersantap siang, kita disuruh berjalan ke sebuah dermaga, perasaan gue jadi nggak enak karena melihat ada sebuah perahu dengan mesin yang sdang menunggu, perahunya agak kecil dan bawaan kita banyak. Akhirnya kita pun disuruh naik dan disitulah gue sadar ternyata kita akan hidup disebuah pulau. Saat perahu sudah ditengah lautan, ombaknya lagi tinggi gue keciprat air udah kayak kucing habis diguyur air sama emak-emak yang pake koyo dimana-mana.






Setelah perlautan yang cukup membuat semua pakaian dalem gue basah akhirnya kita tiba disebuah pulau kecil. Dengan rumah kayu yang mendominasi. Hal pertama yang menjadi perhatian gue saat tiba adalah gue melihat pasir yang berselimutkan tai kambing udah kayak chococips tu desa pokoknya dimana-mana tai kambing, gue liat orang boker di pinggir laut kalo ada bom ikan gue bom tu orang. Dengan keadaan basah kuyub kita semua langsung menuju kerumah pak kepala desa. Untung pak kepala desa sudah menyiapkan tempat buat kami dan cukup layak untuk dihuni. Gue ingat apa yang gue inginkan sebelum KKN; tempat yang indah, banyak pohon kelapa, banyak cewek, penduduk yang ramah, dan makanan yang melimpah.
Tempat yang indah, pasti, gue ada ditengah laut yang kalo ada tsunami bakalan kesapu abis kita, pohon kelapa nggak begitu banyak tapi yang ada adalah pohon Santigi (pohon yang tumbuh hanya dipulau tersebut oleh karena itu disebut pulau Santigi), ceweknya banyak tapi masih kecil semua hanya sebagian aj yang udah 17-an, penduduk yang ramah tentunya, kita diiring ke rumah kepala desa tapi lebih mirip kayak mau disembelih untuk jadi tumbal, makanan yang tercukupi ,karena kita tinggal mancing di dermaga kalo mau makan.
Gue akan hidup selama 45 hari disini.  Sebenarnya selama 45 hari itu sangat menyenangkan buat gue karena gue bisa merasakan hal baru yang belum pernah gue rasa sebelumnya dan tentunya banyak pengalaman freak juga yang gue alami.  Salah satunya adalah hilangnya kardus tempat sampah yang kita taruh di depan posko. Salah satu teman gue namanya kije, dia naruh kardus didepan posko malam sebelumnya dan setelah pagi tiba-tiba dus itu lenyap, gue udah parnoan jangan sampe orang disini akan mengambil segala barang yang ada didepan posko, dan gue ingat celana dalam gue saat itu ada diluar gue liat di jemuran ternyata masih terjuntai indah lengkap dengan deretan kolor lain dan Bra para ladies, tapi anenhya pakaian kita nggak di ambil, gue mulai berspekulasi jangan sampai mereka baru melihat kardus atau jangan sampe mereka nggak punya tempat sampah sehingga nyolong punya kita.
Kemudian Kije meletakkan kardus untuk kesekian kaliannya di depan posko, dan betapa kagetnya gue melihat kambing di pulau ini memakan kardus, Gue syok. Emang sih daerah itu tandus nggak ada rumput, kambing berkeliaran dimana-mana buat hajat disembarang tempat. Gue liatin jangan sampe nih kambing doyan juga makan kayu ama kain, kalo di kasi rumput mungkin dia nolak
“bro kita dikasi rumput ama anak KKN mbeek” bisik-bisik kambing
“ah males mending gue dikasi kardus mbeek” akhirnya mereka pergi dengan rasa kecewa karena nggak dikasi kardus.
Jadi kerjaan gue kalo sore nyari kambing trus gue kasi kardus.biar si kambing nggak ngambek.
Gue merasa kuliah kerja nyata kali ini lebih mengarah pada kengerian yang tak berujung tapi kalo gue ingat ternyata konyol juga. Setelah insiden Kambing makan kardus yang membuat gue kena serangan jantung, gue dikejutkan lagi dengan kebutuhan akan air. Gue kerumah pak kades dan bertanya bagaimana caranya kita bisa ngebeli air minum dan yang jelas harus tawar :
“pak kalau mau beli air galon dimana ?” tanya gue
“ko harus menyeberang ke pulau sebelah atau kedarat” jawabnya santai
Dan setelah gue liat untuk kedarat membutuhkan waktu sekitar 1 jam dan untuk kepulau sebelah sekitar 30 menit. Buset buat ngambil musti segitunya, gue mulai berspekulasi sebenarnya kita sedang diasingkan dari mahasiswa lain, jatah makan kita bakal dikurangi, dan akhirnya kami akan mati mengenaskan dengan kondisi paru paru sudah berubah menjad insang. Tetapi semua itu kita jalanin aja ,semakin lama kita semakin biasa dengan kondisi seperti itu.
Dipulau santigi kendaraan yang wajib ada adalah perahu, itu semacam motor kawazaki 250 r di darat.  Jadi saat para muda mudi sudah beranjak dewasa mereka akan diberi hadiah perahu dengan mesin terbaru untuk melaut sendiri. Tapi gue pikir sebenarnya mereka mungkin nggak  melaut tapi pergi atrek-atrekan di laut lepas dengan pemuda lain ;
“woi ayo gue tantang lo balapan”
“ayo dimana ?”
“di laut flores”
“di laut banda berani nggak lo”
“oke”
Akhirnya mereka balapan di laut jawa, setelah puas mereka akan singgah dipulau-pulau lain buat nongkrong liat matahari terbenam. Gue sempat juga ngebayangin bagaimana cara anak-anak pulau ini berpacaran. Gue memiliki  opsi yang bisa jadi menjadi jalan bagi para muda mudi berkenalan, yaitu Kondangan
Pernah dilokasi KKN gue diadakan acara kondangan, gue nggak nyangka saat itu ternyata kondangan bisa juga terjadi di pulau-pulau kayak gini. Saat itu gue lihat para anak muda datang dengan style baju mereka. kemeja kotak-kotak biru hitam yang dikacing ampe diatas, celana pensil yang kalo tumpul sisa nyari rautan, dan yang terakhir sepatu.  gue berpikir pengamen dari mana nih. sempat gue juga berpikir kalo baju yang mereka pake berasal dari serbet yang di pake ama emaknya lap meja.

 “pak serbet disini mana”
“nggak tau, ayo cepat ma ketinggalan perahu ni”
Mungkin itulah gaya berpakaian ala anak pulau. Gue mah santai, masuk pake baju almamater mungkin gue dikira dukun sunat barangkali saat itu. Saat yang menjadi penentu perkenalan muda-mudi adalah ketika tarian Molulo di gelar ( sebuah tarian dengan bergandengan tangan) gue amatin selama tarian itu mereka berebut tangan cewek, liar juga kehidupan disini. Setelah tarian tersebut mereka akan mojok di dermaga diantara gemuruh ombak dan tai kambing dimana-mana.
Kondangan ternyata mampu membuat pasangan lain berbahagia, the  power of kondangan. Gue sempat berkhayal klo para muda-mudi ini perkenalan ditengah lautan yang dalam ;
“nama kamu siapa ?”
“Naya,kamu ?”
“Rian, ketemuan lagi yuk di tengah sini aja dalam soalnya” kata Rian
“jam berapa kalo siang nggak bisa soalnya aku harus jemur ikan, malam aja” jawab Naya
“oke, gue berenang dulu kesana” Jawab Rian
Dan malamnya mereka tersapu ombak hingga ke samudera Hindia, tragis.










Buta huruf
Ditempat KKN gue ada satu fakta yang mengejutkan, ternyata tidak ada pun seorang guru disana, mereka engan mengajar disana karena jarak yang jauh. Disana terdapat gedung SD dan SMP jika ingin melanjutkan sekolah menengah pertama mereka harus kedaratan. Dan ketika kita tiba disana sekolah tak pernah dibuka hampir selama seminggu. Gue pikir perasaan sarjana pendidikan ada terus setiap tahun kok nggak ada yang kesini, maunya ngajar dikota atau daerah yang comfortable dengan dirinya. Oleh karena itu tingkat kesadaran bersekolah 9 tahun disini masih sangat rendah.
Gue keingat ama murid gue namanya Jefri, ni bocah paling nakal, suka ngeganggu, ingusnya kemana-mana kalo makan es kejilat tu ingus ama es nya. Si Jefri bocah yang seharusnya sudah kelas 5 SD tapi saat itu dia masih berada pada kelas 2 SD ketika gue tiba disana. Untuk memastikan anak-anak ini nggak buta huruf maka teman gue namanya Tian kebetulan dia dari fakultas Keguruan dan pendidikan, mencoba ngetes. Dan hasilnya si jefri hanya bisa sampai huruf “E” hanya beberapa saja yang bisa sampai huruf terakhir.
Gue melihat kemirisan yang ada dipulau ini, tapi ada hal yang buat gue juga cukup bersemangat karena anak-anak disana masih ingin belajar walaupun mereka tak memiliki buku. Gue selalu nunggu jefri karena dia adalah prioritas untuk di benerin otaknya. Ada dua teman gue saat itu namanya Awal yah mungkin dia anak pertama makanya dia diberi nama awal mungkin adeknya namanya akhir dia adalah senior dari fakultas Pertanian dan satunya lagi namanya Adi dari fakultas keguruan dan lmu pendidikan dan dia ngajar PKN tapi nggak ada ciri dia nasionalis dia cenderung lebih cocok menjadi salesman ketimbang guru. Saat itu gue dengar dari mereka  bahwa si jefri punya kakak yang lumayan cantik.
Jefri punya kakak yang cantik, jangan sampe duyung , selama gue disini gue liat cewek hitem semua, saat itu patokan gue untuk cantik adalah putih, semakin putih semakin cantik (mayat dong) dan gue berpikir nggak mungkin ada yang cantik dipulau ini. Setelah pulang dari sekolah gue liat ada cewek ngeliat kita dan gue menduga itu pasti kakakanya si jefri, Sri. Ternyata biasa aja buat gue setelah gue liat aslinya, tetapi entah kenapa Awal dan Adi ini begitu exiciting banget sama si Sri. Mungkin karena kelamaan tinggal di pulau akhirnya mereka mengubah padangan tentang cewek, pikiran mereka udah rusak karena terlalu banyak mencium bau air laut.
gue pernah melihat mereka ngumpul dibelakang posko bersama dua orang cewek dimana salah satunya adalah Sri, sepertinya mereka lagi couple date ,, mereka mungkin gombal-gombalan dan gue yag ngebayangin waktu itu jijik
“tau nggak apa bedanya kamu ama pulau ini sama kamu” gombal si adi
“apa bedanya” jawab si Sri
“kalau pulau ini penuh tai kambing kamu memenuhi hatiku” jawab adi
“bapak kamu nelayan kan” kata awal yang tak mau kalah
“iya kok tau “ jawab si cewek satunya sebut saja mawar
“ karena itu satu-satunya pekerjaan disini” jawab awal mantap
Seharusnya saat itu gue melapor ke pak kades biar langsung di nikahin aja.
Selama KKN Gue  mengalami banyak perubahan dalam segi kehiupan gue terutama makanan. Setiap hari makan ikan, kedapur buka panci, ikan, di meja makan, ada ikan, gue buka tas mau ganti baju, ada ikan semua hidup gue ad ikannya, gue udah lebih mirip anjing laut yang tiap hari makan ikan. Suatu hari datang gerombolan perahu yang gue kira mau datang tawuran sambil bawa pukat, pancingan, es batu, tawuran ala anak pulau
“sini kalo berani” sambil putar jaring
“lo yang kesini” sambil putar-putar pancingan
Ternyata kapal itu membawa panggung untuk kondangan (kondangan yang gue ceritakan sebelumnya)  , gue udah senang wuah banyak daging nih. Hari resepsinya pun tiba, saat itu kita semua diundang dan wajib datang, teman-teman gue pada bawa baju batik, gue nggak bawa sama sekali yang ada cuman celana jeans dan beberapa baju kaos. Akhirnya gue pergi ke kondangan dengan menggunakan almamater dengan menggunakan sendal jepit gue pasti dikiran gelandangan yang terdampar.
Gue juga sempat nggak percaya kalo ada daging yang disediakan. Saat itu hawa nafsu gue untuk makan daging begitu tinggi, akhirnya semua yang ada di meja gue taruh dipiring, nasi, kari, sup ayam, kue bolu, sendal jepit, sabut kelapa pokoknya gue taruh semua. Gue rasanya seperti terbebas dari sebuah penjara setelah memakan daging.setelah acaranya berakhir kita pulang ke posko, sebenarnya saat itu masih ada acara tapi berhubung perut gue udah kenyang gue pulang aja.
Tiba-tiba jam 1 malam perut gue mules, gue ke toilet dimana airnya harus di timba dulu dari sumur yang airnya payau, kalo loe kebelet pastilah lo pup di celana. Saat itu gue mengerahkan tenaga gue ke pantat kiri dan kanan, dan sialnya timbanya jatoh kesumur,goblok. Gue liat di sekeliling gue, ternyata TUHAN masih memperhatikan usaha gue,  langsung aja gue pake. Setelah semua urusan jamban selesai gue kembali tidur dan 30 menit kemudian perut gue mules lagi, selama 2 jam hanya itu yang gue kerjain nimba air dan boker.
Gue ingat kembali apa yang terakhir yang gue makan, terakhir gue makan di kondangan , apa karena gue terlalu serakah yah. Gue ingat akan kambing yang hidup dipulau ini yang nggak pernah makan rumput tapi akan kardus, gue  mulai sadar kenapa populasi kambing dipulau ini berkurang sepertinya kambing-kambing itu yang disembelih dan menjadi  santapan gue semalam fix  gue keracunan daging kambing yang suka makan kardus, sial.  karena kondisi perut gue yang udah nggak karuan, gue bisa-bisa pup di celana ini kalo gue tidur, gue mencari cara agar menghentikan diare ekstrim yang gue alami. Gue ingat ternyata ditas gue ada obat diare, langsung aja gue ambil dan gue makan 3 pil langsung, gue nggak mikir masalah overdosis, gue lebih mementingkan harga diri gue, masa gue bangun dalam keadaan penuh tinja encer. Akhirnya diare gue berhenti total dan gue bisa tidur, paginya gue bangun dalam keadaan fit karena terlalu banyak mengeluakan cairan. Gue cerita keteman-teman dan mereka nertawain gue.















Komentar